Rabu, 04 November 2009

Berkunjung ke “Kingdom of Heaven” di Provinsi Tay Ninh, Vietnam

URL's Source: http://wahyuhandoko.blogspot.com



Setelah semalam mempelajari situasi kota Ho Chi Minh City maka diputuskan untuk esok harinya berkunjung ke Cao Dai Temple dan Cu Chi Tunnel, tempat yang sudah masuk agenda untuk dikunjungi. Pagi itu datang ke beberapa agent tour dan pilihan jatuh pada agent tour Sinhcafe (www.thesinhtourist.vn), tempatnya di 246-248 De Tham St, District 1 Ho Chi Minh City. Ini agent tour paling terkenal, kelihatan memang professional.

Saya cukup salut dengan service yang diberikan. Oh ya harga paket-paket tour yang dihargai sama dari semua agent. Hebat. Hal seperti inilah yang membuat tourist nyaman, tidak merasa dimainkan harga sama agent. Rata-rata mereka hanya bermain service saja. Oh ya toiletnya juga bersih ditempat tour ini, ada wastafel dan sabun tangan juga. Rupanya tidak sejorok beberapa tulisan yang sebelumnya saya baca dari berbagai artikel dan blog.


Travel Tips: Pesanlah ticket tour lebih awal, rata-rata tourist memesan 1 hari sebelum berangkat. Jumlah kursi terbatas dalam setiap bus.


Menu Sarapan
Setelah memesan dengan harga 140.000 VND, tentu cari sarapan pagi. Masih ada waktu 45 menit, bus berangkat pukul 8:15 AM. Awalnya berusaha makan di halal food, yang jual kebab, tapi belum buka. Akhirnya bergaya orang Vietnam, pagi-pagi makan Pho Ga (semacam soup sapi).


Pho adalah makanan khas Vietnam berupa sup sapi atau ayam dengan mi beras dan disajikan dengan garnish berupa tauge, basil, daun ketumbar, limau, cabai, dan kecap ikan


Ahaa…pertama makan pho ini rada aneh, soalnya tidak tahu daun-daun mana saja yang mesti dimasukkan dalam kuah atau dilalap langsung. Ya udah main cemplung-cemplung saja, tapi saya lihat ada daun yang cepat berubah jadi hitam karena panas air kuah. Akhirnya ya diubah, dilalap langsung. Sebelum lalap langsung sebenernya tengak-tengok kanan kiri liat orang lain dulu, sialnya tidak ada yang coba pakai dedaunan itu. Atau memang seharusnya tidak dimakan kali ya…;) Enak memang, daging sapinya terasa banget. Dan cocok sama lidah saya yang suka sama daun-daun dengan rasa-rasa mirip seldri. Rasanya mint. Dan konyolnya kebanyakan cabe potong, waduuuwww….pedes amat.



Bus jalan tepat pukul 08:15 AM, lagi-lagi salut sama on time-nya. Hmm beginilah service yang bagus, agen tour di Indonesia mestinya juga niru ya. Dalam bus diabsen dan disuruh nulis dari mana asal negara. Waktu itu bersama rekan-rekan dari Milan, Australia, Malaysia, Singapore dan Perancis. Beragam ada yang masih muda dan yang sudah lumayan tua. Saya cukup senang bersama mereka, duduk dan ngobrol bersama. Rata-rata rekan-rekan itu bertipe backpacker semua, jadi enak dan cukup bersahabat.


Kalau dilihat cara handle tour ini memang professional, saya berkali-kali geregetan kalau ingat service tour di negeri sendiri yang cara servicenya kurang bagus. Maaf bukan menjelekkan tapi ya memang adanya begitu. Tour guide, namanya Tom, memberi guidance sepanjang jalan dengan Bahasa Inggris, walau logat vietnamnya muncul. Tapi itu tidak apa, yang pasti lancar. Cerita dari sejarah Vietnam dan perangnya sampai ke detail-detail ekonomi Vietnam saat ini, lalu ke menjelaskan object yang akan dituju dan sampai masalah banyaknya motor di Vietnam. Kalimat yang saya ingat banget adalah “Ladies and gentlemen…” dengan gaya khas dan senyum lebar sang tour guide. Dan ini membuat ketawa sepanjang perjalanan.



Sepanjang jalan ke luar HCMc tampak jalan memang cukup padat dengan sepeda motor.




Tapi hal lain yang saya lihat adalah banyaknya taman yang tertata apik dan bersih. Kalah sama Jakarta soal taman kotanya.



Handicapped Village
Bus berhenti di sebuah daerah Handicapped Village, tempat orang-orang cacat perang membuat kerajinan semacam keramik, ini benar-benar handmade. Sepertinya beribu-ribu cangkang telur dipakai untuk pembuatannya. Disini juga sebagai hampiran untuk ke toilet sebelum menempuh perjalanan jauh ke luar kota.



Kantuk tentu saja, tapi tetap saja saya melek terus menikmati luar daerah dari pusat kota. Melewati persawahan, ada pengembala sapi, ada pemandangan beberapa anak sekolah yang memakai baju ao dai. Nah ada satu kehebatan yang saya lihat, meskipun di daerah pelosok, lampu penerangan jalan selalu terpasang dengan rapi tiap tiang listrik. Dan ada pewarnaan cukup jelas untuk instalasi listrik mana kabel R, S atau T.

Cao Dai temple
Sampailah di Cao Dai temple dengan halaman luas dengan pepohonan tua, berada di Propinsi Tay Ninh jauhnya sekitar 100 km ke arah barat laut Ho Chi Minh City, jam mendekati pukul 12.00 tepat.



Saat itulah para penganut agama DaoDais, dimana campuran Confucianism, Christianity, Taoism, dan Buddhism ini datang ke temple ini. Cao Dai sendiri artinya "Kingdom of Heaven".

Travel Tips: Jangan pernah mengambil foto dengan latar belakang patung Budha di temple ini, karena dianggap suatu ketidakhormatan. Dan tetaplah diam selama kebaktian berlangsung.



Melihat baju putihnya mengingatkan baju koko yang biasa dipakai umat muslim, kalau yang kuning seperti di Budha. Saat itu para tourist diminta naik ke lantai atas yang memang disiapkan untuk melihat kebaktian ini.



Ada music pengiringnya dan suasana jadi berkesan lain. Sedangkan dinding bangunannya semuanya berwarna warni dengan penuh lambang "The All Seeing Eye" atau "Divine Eye". Ada 4 kali kebaktian disini; jam 6, 12, 18, dan 24. Rasanya saya pengen tahu yang jam 24, rasanya seperti sholat tahajud. Siang itu melihat mereka sembahyang saya benar-benar ingin melakukan sholat juga disekitar situ, karena tepat jam sholat Dzuhur, tapi urung dan saya jamak setiba di hotel.

Pengikut ajaran ini rata-rata sudah tua, tidak begitu tampak bagi kaum muda yang ikut kebaktian, ada satu anak kecil saja yang ikut-ikutan sama orang tuanya. Ntah apakah aliran yang dipelopori oleh Sun Yat Sen dan Victor Hugo di daerah Vietnam Selatan ini akan berkelanjutan ke generasi berikutnya atau tidak.


Selamat jalan Cao Dai! Iringan rintik hujan kecil mewarnai pamitan saya dengan temple ini.

Saya mencari sepatu, karena sama seperti masjid, masuk temple ini juga harus tanpa alas kaki. Dan sampailah makan siang dengan biaya sendiri tentunya. Lagi-lagi makan pho dengan rasa yang rada beda. Lebih berasa pedas lada hitam.

Ikuti selanjutnya mengenai Cu Chi Tunnel di blog ini.:)
Baca juga:


Senin, 02 November 2009

Berharap Merasa Hilang di Vietnam




Mungkin saja ketika disebut Vietnam gambaran kita adalah sebuah film yang menggambarkan kekuatan tentara biadab Amerika terhadap rakyat Vietnam. Dan tentara Amerika-lah yang menang, walau sebenernya Amerika kalah se'keok-keok'nya dalam sejarah perang melawan Vietnam yang sangat tertinggal dari sisi persenjataan. Jika anda berjiwa petualang yang suka pada hal yang berkaitan dengan historical dan  culture, dimana campuran asia dan western menyatu, tepatlah jika anda memilih Saigon-Vietnam sebagai tujuan. Saigon akhirnya berganti nama menjadi Ho Chi Minh City sejak tahun 1975. Berharap merasa asing dan hilang adalah tujuan untuk pergi ke negeri jajahan Perancis, Amerika dan Jepang ini. 



Bandara Ho Chi Minh City
Jarak tempuh direct flight dari Jakarta ke Saigon adalah 3 jam, dan tentu lebih dari 3 jam jika menggunakan fligt yang mendarat dulu di Singapura. 



Tan Son Nhat International Airport namanya (www.hochiminhcityairport.com), sebuah bandara yang bertata letak dan desain modern. Terdiri dari Terminal 1-Domestic dan Terminal-2 International. Unsur modern sangat menonjol, tidak banyak menunjukkan unsur tradisional seperti bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Sekilas mirip bandara KLIA Malaysia. Sedangkan taman di dalam bandara mirip-mirip di Changi, ada anggrek dan beberapa pohon palem. 



Salah satu masalah di bandara ini yang saya alami adalah saat pemeriksaan imigrasi yang terlau lama, tapi bukan karena daftar pertanyaan yang kita hadapi tetapi masalah system keimigrasian yang memang jalan lambat, begitulah tutur seorang Vietnam sepulang dari Bangkok menerangkan ke saya soal lambatnya system. 



Soal pertanyaan hampir tidak ada dari petugas, yang penting sudah isi form keimigrasian dari Pemerintahan Vietnam maka kita tinggal bablas saja setelah dicap passport. Intinya mudah tidak berbelit saat keluar custom, tentu terkecuali jika anda pernah ada catatan cekal dalam database keimigrasian sebelumnya. Pengalaman tidak serumit ketika masuk ke Singapura, jadi santai saja.


Bandara bekas basis militer saat perang ini sudah direnovasi dan dibuka kembali sejak September 2007. Keluar dari pesawat lewat garbarata, jalan tidak terlalu jauh sudah masuk imigrasi, terus turun tangga untuk ambil bagasi (baggage claim) dan didepannya sudah pintu bea cukai dan keluar bandara, di depan bandara sudah tersedia bus dan taksi. Cukup simple, tidak perlu jalan terlalu jauh. 



Toiletnya pun cukup bersih dan modern. Jangan lupa anda bisa minum air mineral gratis di bandara, dengan kertas kantong (paper cup) yang sudah disiapkan disampingnya. Begitu keluar anda bisa menukar uang ke mata uang dong (VND, Vietnam Dong). Cukup surprise jika anda menukar uang di Vietnam, nilai tukarnya lebih besar daripada di Indonesia.


Di Vietnam ada 2 mata uang yang berlaku, di hotel dan tempat tour mereka mau menerima USD dan Dong, tetapi untuk belanja umum baiknya anda menukar uang ke Dong saja karena akan diterima untuk semua transaksi pembayaran.  Sudah begitu jika menggunakan USD anda akan di kurs lebih kecil dibanding jika dibayar dengan dong langsung.


Travel Tips: Rupiah tidak dikenal di money changer, jadi anda diharapkan membawa SGD atau USD. MYR juga diterima di berbagai money changer, cuma nilainya rada anjlok. SGD dan USD laku keras disemua money changer. Nilai kurs waktu saya datang untuk SGD = 13000 VND dan USD = 18000 VND. Menukar di bandara nilainya lebih kecil dibanding di dalam kota, ada baiknya hanya menukar secukupnya saja dan sesampai di kota bisa ditukar ke money changer yang mudah didapat dimana-mana.

Transport dari Tan Son Nhat International Airport ke Pusat Kota

Jarak bandara ke District 1 sekitar 6 kilometer. District 1 adalah pusat kota di Saigon. Semua tempat wisata, pasar, dan pusat pemerintahan ada di district 1. Ada 3 pilihan untuk ke District 1 dari bandara:



01. Bus Umum, bus bernommor 152 menghubungkan bandara ke terminal bus yang benar-benar di pusat kota, tepatnya di depan pasar Bent Than, dan hanya cukup melangkah sedikit anda sudah bisa sampai ke daerah tourist berada yaitu di Pham Ngu Lau. Daerah ini juga terdapat banyak hotel kelas backpacker dan layanan tour yang aduhai, banyak dan mudah. Bak surga bagi tourist.



02. Taxi
Walau sudah ada yang pakai distance meter, taxi di Vietnam masih banyak dengan cara tawar menawar. Saya rekomendasikan memakai taxi Mailinh. Walau begitu kebanyakan kalau sudah malam taxi disana tidak mau memakai distance meter, pandai-pandailah menawar. Dan ini masalahnya, rata-rata driver taxi tidak bisa berbahasa inggris secuilpun jadi pakailah bahasa tarzan, ambil secarik kertas dan pulpen lalu tawar menawarlah. Ini keasyikan tersendiri.


Betul-betul aneh tapi tetap berkesan. Awal naik taxi dengan stir sebelah kiri ini memang banyak hal yang aneh, ketika saya mau memasang sabuk pengaman malah sang driver mengasih kode tidak usah pakai, dia kasih bahasa isyarat kalau kecepatan sudah 120 km/jam baru pakai, hahha....... Ya sudah saya lepas, toh memang di Vietnam tidak akan bisa mengendari dengan kecepatan tinggi, jumlah sepeda motor yang banyak menjadi faktor penghambat utama.

03. Naik Ojek (Motor Bike)
Ojek tentu lebih cepat cuma anda sedikit repot kalau membawa barang banyak. Tawar-menawar (bargain) harus tetap dilakukan. Biaya ke District 1 sekitar 50.000 Dong.

Travel Tips: Jika anda bepergian secara rombongan suatu keuntungan sendiri karena akan murah biaya taxinya, tapi jika anda sendirian berusahalah mencari teman dari negeri lain manapun, jadi akan lebih murah. Secara normal dari bandara ke kota adalah 80.000 Dong, tapi jika sudah malam bisa kena 150.000 Dong.

Satu jenis transportasi selain di atas adalah cyclo, sejenis becak dengan bentuk lebih ceper. Kendaraan ini hadir saat Perancis menjajah Vietnam.


Pham Ngu Lau
Daerah para tourist dari manca negara, itulah sebutan Pham Ngu Lau. Baik untuk naik ojek atau taxi anda cukup menunjukkan alamat dengan jelas, bagusnya dilengkapi nama hotel atau gedung, sang supir dengan senang akan menuju ke tujuan anda. Waktu di bandara saya mendapat teman untuk menuju District 1. Lumayan bisa share biaya taxi.


Tidak usah merasa seram di Ho Chi Minh City walaupun baru sekali anda datang dan tiba malam hari sekalipun, dari bandara ke kota ini semuanya sudah berbentuk kota. Ya, bandaranya berada di kota, layaknya bandara Tabing Padang yang nempel dengan jalan besar, dan malah terlalu jauh dari kota jika di banding sama bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Sang driver akan memberi tahu beberapa tempat yang menarik, dia tunjuk beberap hotel, mall, rumah sakit dan hal-hal yang menarik di Ho Chi Minh, walau dengan bahasa isyarat.


Gokil emang ketika saya tanya "what is your name?' saja dia tidak tahu dan malah bingung, makanya waktu menunjuk rumah sakit bersalin dia sambil menunjuk suatu gedung sembari memberi isyarat tangan ke perut dan bilang 'woekkkk...woekk'. Nikmati saja perjalanan, tentu anda pun untuk pertama kali akan merasa asing dengan ribuan sepeda motor di jalanan.



Hujan rintik di bulan Oktober 2009 mewarnai Ho Chi Minh, banyak orang bilang hujan di HCMc adalah sebentar-sebentar saja. Entahlah saya tidak begitu yakin, tapi waktu disana memang begitu. Ujan deras sebentar terus berhenti.



Apaka perlu memesan hotel terlebih dahulu?
Kalau anda tipe backpacker memesan hotel adalah hal yang sepertinya dihindari, betul bukan? Walau memesan untuk jaga-jaga di hari pertama disarankan. Tapi setidaknya saya sempat berkunjung ke salah satu hotel yang bisa dipesan lewat internet, namanya An An Hotel tepat di jalan utama Pham Ngu Lau harga kalau tidak salah Rp. 250.000,- hmm cukup menguras kocek.

Tidak usah takut sekalipun anda datang sudah malam ke daerah Pham Ngu Lau, daerah ini hidup sampai lebih dari jam 12 malam.
Layaknya jalan Legian di Bali, Indonesia. Ada cafe, diskotik, toko-toko souvenir, agent tour, money changer, intinya lengkap semuanya ada. Kalau anda mau cari yang lebih murah cukup anda masuk ke jalan yanng sejajar dengan jalan Pham Ngu Lau, disitu terdapat setumpuk room for rent, kisaran sekitar 12 USD. Cukup murah dengan ruangan yang cukup buat istirahat dan bisa dapet ac atau fan serta dapet hot and cold water buat mandi. Itupun bisa dibagi dua atau bertiga, karena ada tempat tidur besar 1 dan 1 tempat tidur kecil.

 


Hotel di Vietnam
Hotel atau room for rent di HCMc cukup bersih. Ada hal yang menarik buat saya, di room for rent ini standardnya adalah mencopot sendal atau sepatu saat masih di depan receptionist. Memang soal kebersihan sekelas hotel backpacker di kota ini cukup terjaga. Di hotel non budgeted juga sama saja, cukup bersih dan nyaman.

Uniknya hotel di HCMc ini (kecual hotel-hotel kelas international macam group Sheraton) dibangun dengan cara menjulang tinggi dan jangkung, dengan lebar hanya sekitar 5 meter bisa dibangun 8 lantai ke atas. Pembayaran hotel bisa menggunakan USD atao Dong, saya sarankan anda membayar dengan dong karena ada selisih kurs yang lumayan. Dan satu hal yang saya lihat jika terdapat kelebihan 2000 VND rata-rata tidak dikembalikan. Rasanya seperti uang tips, jadi jangan heran kalau tidak dikembalikan untuk di hotel dan taxi untuk uang-uang kembalian yang kecil jumlahnya.



Berkenalan dengan makanan Vietnam
Satu hal bagi umat muslim ke Vietnam adalah masalah makanan, karena memang hampir semua makanan di Vietnam mengandung babi. Tapi jangan kuatir. Banyak makanan yang halal dan ada yang benar-benar dijual oleh umat muslim.



Travel Tips: Bawalah makanan halal sebelum terbang jika anda menuju ke daerah yang minoritas makanan halalnya. Setidaknya anda bisa membawa roti, kue kering atau makanan halal yang awet.

Saat perut sudah mulai lapar dan hanya berbekal energi dari makanan selama terbang di pesawat dan disambut dingin rintik hujan membuat perut lapar, setelah check in saya menuju ke jalan utama Pham Ngu Lau sambil berkenalan dengan lingkungan baru. Rasanya memang aman. Survey tempat makanan menghasilkan nol, karena ragu itu halal atau tidak. Jujur dari sekian resto yang saya kunjungi dalam menunya pasti ada 'pork', waduhhh...!

Tapi tetap saja berkenalan ditempat asing seperti itu hal mengasyikan tersendiri. Untung dalam tas masih ada roti bread talk bawaan dari Grand Indonesia buat ganjel perut.


Tak lama sambil berputar-putar, bahkan sempat beli semangka dan minum disebuah mall kecil seperti alfamart, akhirnya berakhir pilihan di tukang jual ketan. Saya yakin banget itu ketan, namanya juga ketan sama persis bentuknya di negara manapun. Cuma ini rada beda penyajiannya, ketan ini berwarna-warni dan ada pula yang dicampur sama kacang-kacangan, jadi ada warna kuning, merah orange, dan putih campur kacang-kacangan serta hitam. Saya memilih untuk di-mix, yang terbayang waktu itu seperti memesan ice cream saja. Lalu sang penjual menaburkan wijen, terus kacang tanah tumbuk yang gurih, lalu garam campur gula pasir sepertinya. Enak! Gurih kacang, asin garem, manis menyatu.



Saat enaknya makan ketan, yang entah apa namanya, datang seorang meminta dibelikan ketan yang sama dengan yang saya makan. Waww...rasanya kaget juga, dengan bahasa isyarat dia menunjuk minta dibungkusin. Kalau saya lihat orangnya seperti pengemis, tapi tetap saya tidak mau mengatakan itu. Saya pun mengiakan untuk dibungkuskan ke penjual, lalu orang itu meninggalkan saya sambil berterima kasih dengan bahasa isyarat. Entahlah sepertinya orangnya memang tidak bisa bicara.




Oh ya makanan keliling yang dibawa sama penjual pakai sepeda juga beragam, saya liat ada semacam tom yam dan berbagai makanan khas laut ditawarkan berkeliling. Cuma tidak seperti di Jakarta yang sambil teriak-teriak khas macam 'sateeeeeeeeee'.


Bergaya backpacker memang nikmat jika bisa bercanda sama local people, di akhir makan ketan, saya menawarkan semangka yang saya beli, dan tanpa bosa-basi sang penjual dengan senyum menerimanya. Walau tidak ada pembicaraan karena memang orang ini tidak bisa bahasa Inggris, walau begitu tetap tetap akrab. Selepas bayar dengan harga 20.000 dong per porsi, lalu beristirahat yang saat itu sudah pukul 01.00 pagi. Waktu Jakarta dan Vietnam tidak ada perbedaan.



Next...ikuti tulisan berikutnya di blog ini mengenai ulasan Vietnam.

Baca juga:

Jumat, 02 Oktober 2009

Pakai Batik; "Mau kondangan kemana Mas?"




Masih ingatkah dalam ingatan kita, kita dulu sering mengejek orang yang suka berpakaian batik. "Mau kondangan kemana Mas?" atau  mungkin "Halo Pak Lurah, mau rapat di kecamatan ya?".


Begitulah kurang lebih lontaran ejekan pada orang yang berpakaian batik.

Bahkan mungkin anda jua pernah merasakan mau menghadiri resepsi ke suatu tempat dan anda mesti membungkus batik tersebut, sesampai ditempat resepsi baru anda mencari toilet untuk berganti dengan pakain batik yang anda bawa.

Butuh ketelitian dan kesabaran dalam membatik.

Saatnya kita berbangga, setelah batik ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Indonesia berkaitan masuknya dalam list "Intangible Cultural Heritage of Humanity", kenapa kita mesti berbangga belakangan?


Itulah yang saya pikirkan, kadang kita tidak begitu menghormati budaya kita sendiri. Bahkan negeri ini seperti pernah kehilangan jati diri, ambil contoh saja lihat anak muda dengan berbagai gaya pakaian yang hmm sangat mengumbar aurat. Padahal kalau dipikir batik dan aplikasinya dalam bentuk 'kemben' salah satu pakaian Jawa yang berlapis-lapis membelit tubuh wanita bisa menjadi pelajaran bagaimana aurat itu mesti ditutup rapat.


Batik Indonesia, halus dan banyak corak keindahan


Dari sisi seni batik sangat indah, dalam salah satu pertemuan kenegaraan, pernah semua kepala negara dikenakan batik dan cocok semuanya. Hari ini saya bareng di lift ada orang bule memakai batik, sangat cocok dengan warna kulitnya, dan berkesan anggun.



Kesan memakai batik adalah berwibawa, dan bisa disesuaikan dengan keadaan pula, batik bisa dipakai untuk hal resmi/seremonial, pesta, resepsi dan belasungkawa. Dalam sejarahnya sendiri batik memang bermula dipakai untuk pakaian keluarga kraton, yang akhirnya menyebar ke masyarakat umum di Pulau Jawa dan berkembang hampir diseluruh Indonesia.

Soal batik di Indonesia, memang lebih beragam coraknya. Singapura, Malaysia dan India bahkan Jepang juga sebenarnya punya corak batik.


Ada pengalaman tersendiri soal batik saat di Singapura di daerah Kampung Glam. Disini batik Indonesia dipasarkan di Singapura dan senangnya para penjual yang dari turunan melayu ini menawarkan dengan cukup fair bahwa itu batik dari Indonesia.


Saya sempat ditawarin "Sir, this is batik from Indonesia" sembari dia menunjukkan label dan ada tulisan "Made in Solo". Saya senyum dan balik bicara dengan bahasa Indonesia yang fasih nggobrol masalah batik. Yang jualan orang dari turuanan melayu Malaysia.

Batik berlabel ' Made in Indonesia' dipasarkan di Singapura

Selain batik kain sarung atau sarong kalau di Malaysia dijual juga di kawasan Kampung Glam Singapura.


Sarung asal Indonesia juga laku keras di pasar Singapura


Bahkan sempat saya bertemu pembeli lain yang kebetulan ada orang melayu yang mau beli batik buat tutup jenazah, waktu itu mereka mengajak saya memilihkan corak yang cocok. Saat itu saya teringat sama kampung halaman di Jawa, dimana jenazah ditutup dengan kain jarit pula.

Cukup akrab suasana sesaat itu, saat itulah sebenernya saya merasakan antara Singapura dan Malaysia mempunyai budaya batik, kita sesama dari keturunan Melayu, jadi mestinya akrab dalam pemakaian budaya yang bersamaan asal-usulnya. Sedang yang saya lihat di Singapura juga mempunyai batik, coraknya mirip dengan corak para awak pramugari Singapore Airlines. Baik batik Malaysia maupun Singapura, tidak banyak beragam dibanding batik karya Indonesia.




Kembali, budaya Indonesia sangat indah dan beragam, kaya raya dan bernilai tinggi. Bentang dari dari Aceh sampai Papua adalah rahmat kekayaan wilayah yang tak ternilai harganya, sampai mempunyai 3 daerah waktu dalam 1 negara. Luar biasa. Berkelilinglah di semua pulau Indonesia, anda akan merasakannya sensasi budaya kita.



Saatnya kembali bangga memakai produk dan budaya negeri sendiri, tapi perlu malu melakukan budaya Indonesia yang suka 'ngaret' dan korupsi. Percayalah, boleh di kata, jika rakyat negeri ini bangga dengan budaya dan produk sendiri dan tidak ada korupsi maka surga itu berada di Indonesia.

Minggu, 13 September 2009

Buka Puasa Bersama, suatu fenomena kelainan?

Source: http://wahyuhandoko.blogspot.com/
Mungkin Anda sejak awal ramadhan sudah mendapat undangan buka puasa bersama yang berderet-deret, bahkan Anda diminta untuk confirm supaya nanti 'match' dengan agenda.

Atau kalau kita amati dalam setengah perjalanan ramadhan, undangan buka puasa bersama ada dimana-mana dan meningkat drastis dibanding setengah putaran pertama. Resto pun sudah terdapat list booking dari berbagai tempat sampai akhir ramadhan.
Ini hanya pandangan pribadi saya mengenai buka puasa bersama:
Pada dasarnya saya selama ramadhan ini juga banyak berbuka puasa bersama, tempatnya di area masjid, setengah jam sebelumnya ada tausyiah, ada ceramah keagamaan, sambil menanti datangnya maghrib tiba. Setidaknya sebelum berbuka semuanya sudah berwudhu pula.

Tak lupa dalam berbuka puasa itu sebenernya tidak ada hidangan istimewa seperti masakan rumah Anda atau resto, cukup ada kurma 3-5 biji, kadang kue, dan kadang pula nasi ukuran 1/4 menu biasa dan lauk sekadarnya. Tentu ada hidangan minuman teh manis atau air putih dan kadang pula es blewah.

Diantara yang hadir berbuka pun beragam, ada eksekutif (kelihatan kadang masih pakai dasi dan bawa laptop, kalie aja ya), ada pekerja/karyawan biasa, ada konsultan, ada programmer, ada pekerja bangunan, kaum dhuafa, dan bersama pula anak peminta-minta. Lengkap semua strata pokoknya.

Saat tiba dibacakan doa berbuka dan khasnya Indonesia ada tabuhan bedug sebagai starting time berbuka, betapa nikmatnya, luar biasa, enak dan segar dengan seteguk teh manis atau gigitan kurma. Ya Allah, betapa besar nikmat berpuasa, segar dan lega urat-urat dengan rahmat-Mu lewat air buka puasa, dan betapa rasa kekerabatan yang tinggi saat bisa berbuka dengan banyak orang. Kadang saya dan teman samping kanan kiri, berbagi kue yang kita bawa sendiri. Luar biasa rasa perasahabatan itu.
Lain halnya, mungkin Anda yang berbuka di restoran, Anda sudah terhuyung-huyung menuju tempat resto, macet, kesal dan makan waktu berjam-jam diperjalanan dengan capek dan rasa tidak sabar. Belum bunyi klakson, serobot sana-sini untuk dapat jalur dan lain sebagaianya. Walhasil Anda bisa saja telat dan berbuka di dalam perjalanan.

Saudaraku, tanpa bermaksud mengurangi rasa kenikmatan Anda berbuka di resto atau tempat makan gedungan; saya hanya berpikir dan ini berdasarkan pengamatan dan diskusi bersama teman-teman yang membenarkan ketidakefisienan berbuka di resto, bahwa:

• Berbuka di resto jauh membuat kita kehilangan 'moment' rasa berbuka puasa, dalam arti bukan hanya dari segi materi makanan melihatnya.
• Sholat magrib yang jauh tertinggal dari waktu sebenarnya, biasanya resto tidak menyediakan masjid/mushola, kalaupun ada tempatnya sempit dan berebut wudhu serta berebut tempat (antri), saat inilah kekhusyukan susah dilakukan.
• Makan menjadi berlebihan dan tahukah Anda biaya (walo mungkin ditanggung company) cukup besar. Akan lebih rugi lagi kalau sudah buka puasa bersama di resto tapi bayar sendiri-sendiri. :)
• Lebih banyak canda tawa dan walhasil waktu Isya tiba kita masih dalam resto.
• Efek kelewat waktu Isya, Anda sholat taraweh kadang terlewatkan pula, memang sholat taraweh bisa dilakukan dirumah, tapi kalau sudah capai dan sendirian mengerjakannya condong akan terlewatkan.

Akhirnya, ini hanyalah sekadar share, ada benarnya Anda mengantisipasi acara berbuka puasa di resto dengan sebaik-baiknya, jangan sampai semuanya menjadi terlewatkan dan melampaui batas. Intinya mesti dilakukan banding antara maslahat dan mudharatnya.

Tak lupa di akhir Ramadhan 1430 H ini, kita berharap agar di malam kemenangan nanti tidak ada ironi seperti pada tulisan Antara Ironi dan Hikmah di Malam Kemenangan

Senin, 27 Juli 2009

Vote Final: Komodo as New 7 Wonders of Nature

Apa perbuatan kecil yang berdampak besar bagi Indonesia?

Cukup sederhana, Anda tinggal ikut vote putaran terakhir agar Pulau Komodo milik Indonesia ini menjadi New 7 Wonders of Nature. Kita telah masuk 28 finalis dari 77 nominator sebelumnya, selangkah lagi kita bisa mencapai impian itu.

Silakan ikuti cara vote Komodo sebagai 7 Keajaiaban Alam dengan langkah-langkah sebagai berikut:

01. Masuk ke website
http://www.new7wonders.com/ dan Anda akan ditampilkan layar seperti di bawah ini. Lalu klik pada gambar KOMODO yang terletak pada baris pertama kolom ke-lima (lihat tanda panah)


02. Lalu setelah Anda pastikan muncul tampilan yang lebih besar dari KOMODO seperti gambar di bawah ini, Anda klik tombol “add to list” (lihat tanda panah)



03. Pastikan KOMODO sudah masuk pada bagian “Your selected seven:” dan pastikan berada pada nomor PERTAMA. Jika KOMODO tidak pada urutan pertama, Anda bisa membuang dengan cara klik pada text “remove”

Sabtu, 04 Juli 2009

Arah kiblat masjid di Indonesia mestinya ke Singapura

URL: http://wahyuhandoko.blogspot.com

Mungkin pernah anda berpikir hidup di negeri tetangga, Singapura, akan jauh dari yang namanya masjid. Susah ditemukan dimana letaknya masjid itu.
Masjid Sultan SingaporeJujur saja, tidaklah demikian.

Memang tidak sebanyak masjid di Indonesia yang tiap sudut gang, sudut jalan, sudut pasar, bahkan ditempat bensin sekalipun mudah didapatkan masjid. Masjid di Singapura tertelak di beberapa tempat dan ter-organise dengan baik di bawah MUIS, Islamic Religious Council of Singapore.

Tapi soal kebersihan dan tata letak bangunan masjid-masjid di Singapura jauh sekali dibanding di Indonesia yang notabene mayoritas penganut Islam ini. Memang banyak sekali masjid di negeri kita tapi sayang, dari sisi kebersihan sebenernya dapat raport merah. Tata letaknya pun asal saja, ada memang beberapa masjid yang mempunyai ruang yang cukup luas tapi tetap saja soal kebersihan dan kerapihan masih seadanya saja.

Dan maaf, meskipun saya muslim, saya kritik terhadap pembangunan masjid yang kadang mengerahkan pemungut sumbangan yang bertebaran di jalan-jalan. Selain macet, menimbulkan kesan tidak profesional. Banyak memang kaum muslim negeri kita bersemangat membangun masjid, tapi itu hanya semangat saja, soal managementnya masih kurang.

Padahal masjid seharusnya tidak dibangun berdasarkan kemewahan, bukankah Rasul Muhammad mengajarkan kesederhanaan. Dimana ajaranya mengatakan bahwa bangunlah masjid dengan dasar ketaqwaan, bukan memaksa membangun masjid besar dan mewah, cukuplah dengan tiang-tiang sederhana dan alas tikar. Yang dipentingkan adalah berapa jumlah ummat yang bisa hadir disetiap waktu sholat wajib. Tapi kenyataanya berlawanan, walhasil banyak masjid yang baru pondasi atau dibangun hanya kerangka doang terus tergeletak begitu lama, sambil menunggu dana mengalir lagi.

Masjid Sultan Singapore Masjid Sultan Singapore
Menyoal bangunan lagi, mari kita ambil pembanding dengan Masjid Sultan di Muscat Street, Singapura. Mesjid yang berada di kawasan Kampung Glam ini menampilkan khasnya Islam di Singapura, dibangun di daerah kampung para nelayan yang dulunya bernama Temasek. Mesjid ini merupakan mesjid tertua dan terbesar di negeri singa. Di sekitar masjid dan istana Sultan, terdapat kafe, rumah makan (bahkan dipojok masjid ada rumah makan padang khas Indonesia), dan tempat hiburan.

Tampilan menawan saat pertama saya berkunjung ke tempat ini adalah tempat wudhu & toiletnya yang super bersih dan indah serta wangi. Soal kebersihan memang sudah tidak dimasalahkan lagi di negeri Singa ini.

Lihatlah tidak hanya bersih dan desain yang bagus, tapi juga dipikirkan mengenai ergonomisnya, tempat wudhunya diberikan pegangan tangan kanan dan kiri sehingga mudah waktu membasuh kaki. Rangkaian bunga segar juga mewarnai tempat ini.

Sehabis itu saya masuk ke ruang dalam, bentuk interiornya memang tidak seperti layaknya masjid, malah berkesan seperti bangunan gereja.

Saatnya saya ikut sholat asar berjamaah dengan warga. Nah ini dia, bedanya masjid di negeri singa adalah tidak memakai pengeras suara luar untuk mengumandangkan azan, memang setelah saya tanya ada aturan yang jelas dari pemerintah.

Sesuai dengan histori daerah ini adalah daerah kampung untuk orang melayu dan arab, maka tidak heran jika yang berjamaah adalah orang keturunan keduanya. Saya lihat juga banyak orang Indonesia yang sholat di situ. "Saya dari Medan, pulang umroh dan transit dulu di Singapura" kata seorang Indonesia yang saya temui.


Travelers Tip: Untuk menjangkau mesjid ini cukuplah mudah, naik MRT turun di Bugis dan jalan kaki saja menuju Arab Street.

Aku berpikir, harusnya kita bisa meniru. Meniru yang baik adalah wajib. Negeri muslim terbesar ini harusnya sudah sadar dan mulai bagaimana merangkai kebersihan, ergonomis, keamanan, kenyamanan, dan teknologi serta sejarah di dalam membangun/merawat masjid. Harusnya arah kiblat management masjid kita meniru seperti di Singapura. Wassalam.


Jumat, 26 Juni 2009

Rambu Bandara yang Unik

URL: http://wahyuhandoko.blogspot.com

Soal kekreatifan memang selalu ada di negeri ini, Indonesia. Dari sebutan anjungan tunai mandiri (ATM) dari automatic teller machine, sama-sama bersingkatan ATM. Bahkan sejak jaman Belanda, ada satu taraf pendidikan pada saat penjajahan Belanda namanya Algeme(e)ne Middelbare School yang disingkat AMS, pada jaman Indonesia sudah merdeka berubah menjadi Sekolah Menengah Atas yang disingkat terbalik dari jaman Belanda menjadi SMA.

Nah kalau yang saya lihat ini di Soekarno-Hatta International Airport, ada salah satu rambu yang memang asing kelihatannya bagi orang awam.

Anda bisa lihat dalam gambar, yang kita tahu dalam rambu ini seharusnya tidak jamak disertakan kalimat "sepanjang jalan ini". Tapi kalau dipikir benar juga ya, pasti yang dimaksud adalah jalan bergelombang sepanjang jalan ini. Yeee...mestinya udah tahulah disitu pasang rambunya pasti disitu pula bergelombangnya.

Minggu, 10 Mei 2009

Car Free Day: Udara segar, badan kekar, dan koar-koar

URL: http://wahyuhandoko.blogspot.com
Car free day di Jakarta? Sudah lama saya mau ngikut tetapi tidak (belum) ada kesempatan. Untuk kali kedua, car free day diadakan di Jalan Pemuda, ini bertepatan dengan 10 Mei 2009. Ketika melenggang di jalan sepi memang enak.


Seperti apa sebenernya car free day itu:
01. Jalan Sepi
Itu pasti, setidaknya hanya bus transjakarta dan bus-bus umum yang melintas. Saya lihat ada 1 taksi yang masuk ke jalur car free day, uhummmm...kelihatanya yang naik kurang paham arti car free day, lantas saja di stop ama polisi dan putar balik.

02. Banyak Orang di Jalanan
Orang bebas duduk, jalan santai, dan bersepedaan di jalan raya yang biasanya padat.

03. Game
Yes, bisa maen game buat anak-anak. Ada lempar bola ke keranjang.

04. Main Bola

Ini khasnya car free day, selalu ada yang main bola tendang, baik anak-anak maupun dewasa. Dan bertanding beneran, ada wasit resminya pula. Cuhuiii tendang yang jauhhh...asal tidak nyemplung got deh!

06. Library
Wuihh...ini baru bakal menjadi calon negara maju. Di car free day, disediakan perpustakaan, 1 pakai mobil dan 1 pakai lesehan. Bisa bebas baca buku cerita, majalah, dan koleksi lain yang unik. Saya sih pilih Trubus, ya lumayan cukup mendidiklah. Tak lupa ada slogannya : "Gunakan waktu untuk membaca, jadikan buku sarana sukses dunia akhirat".

07. Poco-poco
Aerobik dan poco-poco, so pasti hadir juga. Dijamin badan kekar dan keringatan.



08. Musik
Jreng-jreng, mau lagu pop? Maen biola? Semuanya ada di car free day. Asyik emang, ya boleh saja deh, jadi rame koar-koar. Yang tampil pun gak cuma dewasa saja kok. Ada anak-anak yang pintar maen biola juga. Hemm mantap!

09. Billyard

Lengkap, mau main mini billyard juga ada. Yang maen cukup profesional juga saya lihat.
10. Jualan
Untuk yang satu ini saya memikirkan langkah berikutnya, kalau tidak diseleksi bisa jadi pasar tumpah. Sementara yang dijual dan tentu menjadi sponsor adalah minuman berenergi dan sepeda, ada juga tukang siomay yang ikut nebeng di stand :)

11. Bertemu Community

Bagus..bagus, bike to work Indonesia ini aktif ikut buka stand di car free day. B2W Indonesia ini jualan merchandise lengkap dan harganya standard, barangnya cukup bagus kok.

Hidup B2W Indonesia! Semoga pemerintah memberikan jalur bersepeda bagi community ini, ciri bangsa yang maju adalah makin banyaknya orang sadar bersepeda untuk beraktifitas.

Aku katakan community B2W adalah orang-orang yang smart dan peduli lingkungan.

Kamis, 27 November 2008

Sent from mBackBetty® smartlady with Paha Bagus Mulus, Nyanthol and Greng Teruuusss...!

URL: http://wahyuhandoko.blogspot.com/

Pagi hari saya buka mailing list yang saya ikuti, sejak lama saya tidak buka. Cuma sesekali saja saya lakukan posting, hmm ya karena sibuk dan maaf beberapa postingan itu kadang just saya hello dan berisi postingan beberapa lowongan bagi kaum fresh graduate.., bukan saya mentertawakan postingannya, saya sudah kedaluarsa soal usia yang dipersyaratkan. Kalaupun ada dan memenuhi usia, kadang banyak tidak match dengan qualifikasi. Niat ingsun nyambut damel...terima saja kerjaan sekarang inilah. Alhamdulillah.

Cuma dari sekian lama aku ikutin mailing list, ada yang satu yang tiap kali aku amati, rada mengelitik banget. Ntah disengaja atau tidak para pengguna gadget BlackBerry*) dalam line terakhir selalu di-inline dengan kalimat "Sent from BlackBerry with...." Saya paham bahwa product Berry Hitam ini mendefault settingan signature dengan tag seperti itu.


BlackBerry adalah bagian dari alat nirkabel yang diperkenalkan sejak tahun 1999 oleh Research In Motion (RIM) sebuah perusahaan asal Kanada. Sejak tahun 2002 orang lebih mengenal dengan smartphone dimana ada kemampuan push email, pesan teks, internet fax, browsing dan terus berlanjut dengan kemampuan lainnya. Di Indonesia, Blackberry pertama kali diperkenalkan pada pertengahan Desember 2004 oleh operator Indosat dan perusahaan Starhub (salah satu partner RIM).

Geli rasanya, apa enaknya ada kalimat seperti itu untuk 'signature paksaan'. Toh kita juga tidak dapat bayaran dari provider. Yang menjadikan parah lagi kalau saya lihat sang pengguna pun hanya menjawab hal yang pendek, satu kata saja, tapi dengan embel-embel yang lebih panjang di bawahnya, misalnya:


Sudah.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Ehm..semoga saja tag inline tersebut bukan untuk menunjukkan bahwa 'saya punya gadget yang modern'. Hanya lupa saja belum diganti settingannya... Memang tidak dipungkiri untuk saat ini karena kemajuan teknologi menuntut kita untuk mempunyai tools yang mendukung bisnis. Tapi sayang, misal sejak ada GPRS lahir yang namanya orang Indonesia itu dah suka banding-bandingin "HP elo ada GPRS-nya tidak?". "Ada kameranya tidak?". "Bisa radio ama mp3 tidak?" Padahal pada suatu ketika saya tanya ke orang yang mau beli di Roxy Jakarta. "Masnya beli HP yang ada GPRSnya mau buat apa?". Jujur saya sangat kaget minta ampun, Mas tersebut tidak tahu fungsi GPRS.

Bangsa kita kadang sudah terbelenggu oleh rasa gengsi, maka beruntunglah orang Jepang yang telah memproduksinya, sudah level negeri kaya, disokong lagi ama orang-orang yang gengsi dari pelosok-pelosok kampung (dan juga orang kota) di Indonesia yang miskin ini, tetapi suka hidup dengan kegengsian dengan tambahan penyedap style hidup yang boros.

Saya suka pelajari hidup orang Indonesi Keturunan Tionghoa, kebetulan dulu saya bekerja dengan mayoritas saudara-saudara dari keturunan Tionghoa (termasuk sampai kawasan Petak Sembilan,Glodok). Misal saja keluarga Eka Tjipt Widjaja, sang founder Sinar Mas Group. Hidup mereka sebelum sukses, penuh dengan kesederhanaan, penuh perhitungan dalam pengeluaran. Sayang orang pribumi kadang merasa nyaman karena sejak lahir di negeri sendiri, kurang survival dalam hidup yang akhirnya kurang bisa menghargai apa saja yang telah dia dapat dari usaha-usahanya.

Lain lagi, pernahkan anda memakai alat GPS??
GPS dengan sederet varian GPS mapping, tracking, aviation, GIS, fishfinder adalah alat yang saya lihat akhir-akhir ini marak. Memang menyenangkan mencari tempat yang anda belum kenal dengan tools ini. Tinggal pencet awal dan pencet tujuan, kita akan ada guidence yang muncul untuk menuju ke tujuan. Bahkan dalam perjalanan maya, kita juga dapat menemukan restoran, tempat mucikari & toko kondom modern, lalu outlet-outlet modern yang akan dilaluinya.

Tapi, saya akan melihat dari unsur sosial. Dulu kalau orang menuju suatu arah tertentu yang belum pasti, maka orang tersebut akan berhenti dan menyapa orang lalu bertanya arah yang dimaksud. Berlalulah orang itu ke arah yang ditunjukan. Suatu saat orang itu akan menanyakan lagi setiap kali ada belokan ke orang lain yang ditemuinya. Bisa tukang ojek, mbah-mbah yang mencangkul ladang, orang di gereja, bapak di siskampling, bahkan anak kecil sekalipun. Itulah rasa social akan muncul dari hal-hal seperti itu, kita akan berinteraksi dengan kelompok manapun. Bahkan bisa-bisa kita ditemukan oleh sang GPS Sejati, si Mbok jualan pecel keliling sebut saja namanya Mbok Garmin Kartorejo atau Mbok Nuvi Ponijah, yang ternyata tetanggaan sama rumah yang bakal anda kunjungi. Sedap bukan? Selain nanti dapat gratisan pecel (kalau masih sisa), juga dapat buat bahan guyonan waktu sampai tujuan, lalu pastilah muncul rasa untuk berterima kasih kepada Mbok Garmin atau Mbok Nuvi.

Akankan gadget melibas habis rasa sosial?


Tidak. Munculah jaringan sosial di jagad maya. Bahkan ketika aku posting blog ini lalu iseng-iseng aktifkan YM muncul sapaan teman dari negeri seberang:

cocho****(11/27/2008 1:07:45 AM): eh udha pagi..
cocho****: tidur gih..
cocho****: malah ol..

Wahyu Handoko: hihihi
Wahyu Handoko: baru nulis blog
Wahyu Handoko: hehe
Wahyu Handoko: males benerin blueprint
Wahyu Handoko: enakan ngeblog
Wahyu Handoko: hhahahaa

cocho****: weleh.. centil.. pagi2
cocho****: gw harus bikin presentasi.. kekekeke..

Wahyu Handoko: buat present apa niy?

cocho****: buat training..

Tapi tetap saja jaringan social ini kalah taste (bisa dibahasakan 'kurang nendang'). I
tulah contoh nyata, bahkan kita pun bisa saja dikasih buket bunga, video, dan photo gambar pecel tanpa pernah merasakan pedes segarnya pecel, atau pun tidak bisa mengenang bau keringatnya mbah-mbah di ladang karen ekstra tenaga saat mencangkul.


Oleh karenanya sebagai tulisan 'ledekan' kiranya saya mencantumkan penutup dalam signature tulisan ini supaya lebih gengsi, karena gengsi rupanya sudah mengalahkan rasa untuk berprestasi.

Sent from mBackBetty® smartlady with Paha Bagus Mulus, Nyanthol and Greng Teruuusss...! Get mBackBetty, Free 2oo GB/month. Limited.

Note: Kita membeli alat, asal berguna & banyak manfaat, walaupun mahal ya beli saja:-)


Rabu, 01 Oktober 2008

Antara Ironi dan Hikmah di Malam Kemenangan

URL: http://wahyuhandoko.blogspot.com/
Puasa terakhir di ramadhan tahun 1429 Hijriah ini, saya masih di Jakarta. Memang saya berniat sejak awal untuk pulang pada hari-H sore harinya, selain bermaksud silaturahim saudara di Jakarta juga ingin menghabiskan ramadhan di masjid-masjid Jakarta terutama di Istiqlal. Alhamdulillah banyak teman yang saya kira luar biasa atas share perjalanan spiritual hidupnya. Sebut saja Pak Bambang, salah satu pegawai bank besar di Indonesia, pertama kali ketemu saat makan di Juanda. Berawal dari sapa, cerita sekolah dan jurusan lalu cerita kerjanya di Jambi yang kebetulan pernah datang ke PT Lontar Papyrus di Tebing Tinggi dimana salah satu tempat project saya di kantor lama. Saya dan Bapak setengah baya ini cerita tentang spiritual hidupnya. Intinya bagaimana konsep keyakinan, dimana Bapak ini dulunya kebetulan bukan muslim, walaupun begitu saya dan Bapak ini sama-sama bahwa memandang perbedaan soal SARA ini bukanlah suatu perbedaan. Konsepnya, bahwa manusia ini diciptakan dalam berbagai suku dan agama tetapi untuk saling mengenal dan mengetahui. Dan masih banyak lagi, bahkan saya sangat sulit untuk bercerita dalam bentuk tulisan, sulit untuk dituliskan terkecuali ikut atau ada kemiripan soal pengalaman spiritual yang pernah dilalui. Wahh.. luar biasa!

Saya ikut takbiran sampai Isya tiba, dan saya pulang menuju Pramuka, saya berniat makan di es teler 77 di Gramedia Matraman, tapi ternyata tutup. Walhasil makan sate padang dan bakso di seberang jalan. Rupanya jalan dimana-mana secara bersamaan sudah banyak konvoi takbiran. Semua macet. Saya jalan kaki sambil menikmati suasana takbiran malam itu, sedikit tersendat arus lalulintas.

Apakah Takbir atau 'bertakbir-takbiran'?
Sebenarnya kalau saya amati konvoi tersebut bukan takbir walau ada beberapa yang benar-benar takbir, tapi jarang. Yang terdengar takbir adalah suara-suara dari masjid sekitar jalan raya. Jujur saya sangat miris dengan konvoi kendaraan yang 'bertakbir-takbiran' ini. Saya sempatkan naik di jembatan penyeberangan tepat di BCA Matraman. Saya amati konvoi yang lewat. Kemirisan makin menjadi, sebagian hanya teriak-teriak, saling sapa teman-teman yang sama-sama naik mobil bak terbuka, sering mereka juga naik ke atap kendaraan. Dan hanya teriak-teriak tidak jelas, yakin bukan takbir. Bahkan saya dengan jelas menyaksikan ada truk yang menyanyikan lagu pop yang sedang hits, ada yang menyanyikan lagu jingle suatu klub sepakbola dan lengkap dengan kibar bendera klub, bahkan ada satu truk yang berkibar-kibar dengan bendera partai. Saya melanjutkan jalan kaki, ada beberapa yang menyalakan kembang api langsung dari atas kendaraan, dan ada tidak sedikit ditemui banyak pemuda-pemudi yang berpakaian tidak senonoh. Subhanallah...! Note: ternyata benar, berita soal konvoi 'bertakbir-takbiran' ini dilangsir di TV dalam news yang saya saksikan sambil menulis artikel ini. Semoga bagi kita semua, tidak menilai bahwa 'bertakbir-takbiran' adalah ajaran asli Islam. Saya yakin Islam tidak mengajarkan demikian. Islam mengajarkan kelembutan dalam menyebut nama Sang Khalik (Pencipta). Hanya sayang acara 'bertakbir-takbiran' ini tidak dikelola dengan baik dan hanya sekadar acara yang dianggap hura-hura oleh sebagian pemuda-pemudi metropolitan.

Seni dan Benar-benar Takbir
Tepat selepas dari Pasar Genjing, Pramuka, saya temukan suatu takbiran yang benar-benar takbir. Walau dengan iringan musik akustik, suara takbir sangat jelas. Saya ingat dengan acara dialog di Metro TV bahwa Islam di Indonesia itu mengadop seni-seni daerah dimana Islam diajarkan. Saya kira itu bagus, walau sebagian ada yang menolak. Misal bangunan Masjid Kudus mengadop bangunan gaya Hindu yang kebetulan memang saat itu Kota Kudus banyak penganut hindu. Analogi sama diatas, takbiran di RW 07 Rawasari ini diiringi dengan berbagai alat musik lengkap dengan sound system dan dekorasi ketupat, tentu sentuhan musik timur tengahnya sangat terasa. Layar lebar dengan sorotan projector dipasang di sudut kanan depan, sehingga orang yang berlalu dari kejauhan bisa menyaksikan. Sangat kreatif dan menarik. Banyak para peserta takbiran di jalan berhenti sejenak untuk melihat, harusnya mereka malu bagi yang tidak senonoh 'bertakbir-takbiran'.

Duafa dan Takbir
Malam itu sepanjang jalan Pramuka saya cermati pula para kaum duafa seperti pemulung, penarik gerobak, dan beberapa penyapu jalan. Saya sangat tersentuh dengan mereka malam itu. Disaat orang sedang meriah merayakan takbiran, mereka tetap memulung. Sebagian duduk-duduk ditepi jalan dengan pandangan hampa menatap truk-truk konvoi. Ada juga yang berebah diteras toko yang cukup dekil sambi memandang jalan yang saat itu macet. Itulah Jakarta. Antara 'bertakbir-takbiran' yang norak, ada juga yang benar takbir dengan spiritualnya, dan ada pula yang tetap memulung dengan nasib yang sama meskipun besok hari raya.




Namun tidak bagi Pak Murtono, saya bertemu dan berbicara dengan penyapu jalanan ini. Bapak dan temannya ini biasa menyapu jalan mulai pukul 23:00 malam, namun malam ini dia tidak bisa bertugas karena banyaknya kendaran yang lalu lalang. Dia hanya duduk disamping jalan, sambil melihat konvoi. Saya sangat menghargai kerjaan Bapak ini, makanya saya sempatkan untuk menggobrol soal kerjaanya. Disaat Bapak ini duduk ada juga dari sekian mobil konvoi menurunkan kecepatannya dan seorang pemuda berteria "Pak,...Pak...ini ada sedekah" sambil pemuda itu mengulurkan tangannya disertai uluran tangan Pak Murtono dan temannya untuk menyambut amplop. Ya Jakarta itu bisa hitam dan bisa putih, tergantung diri kita sendiri memaknainya. Saya berpamitan dengan Pak Murtono, menyebrang jalan untuk pulang.

Tepat diseberang jalan yang lain ada pemulung yang sudah bersiap tidur, dan gerobaknya dibiarkan tergolek dibibir jalan. Kontras sekali pandangan gerobak ini dengan padatnya lalu lintas malam itu yang sangat padat dengan hingar bingar malam kemenangan. Saya sempatkan ada mobil kijang menepi dan memberikan bungkusan, betapa saya saksikan bahasa tubuh sang pemulung yang berterimakasih secara dalam. Kembali terbukti bahwa ada yang benar-benar hanya 'bertakbir-takbiran' dan yang takbir beneran dengan tidak menyuarakan suaranya tetapi dengan aksi yang nyata. Maha suci Allah, semoga kita menjadi orang yang bisa merasakan dan berbuat seperti ini. Saat itulah saya benar-benar terpicu dan beraksi untuk duafa lainnya.
Tidaklah baju baru, cat rumah yang indah, kue yang enak, buah yang segar, kumpul-kumpul dengan saudara dengan acara meriah, ataupun ucapan sms atau email ke kolega, tetapi cukup simple saksikanlah hal-hal seperti duafa ini dan berbuatlah.

Seluruh alam bertakbir, bertahmid,dan bertahlil. Selamat Iedul Fitri 1 Syawal 1429H, maaf lahir dan batin. Semoga Allah mempertemukan di ramadhan mendatang.


Source: http://wahyuhandoko.blogspot.com/